Translate

Tuesday, July 17, 2012

Setangkai Mawar putih


Karya Dian Puspita
Selamat membaca :’)

Mawar itu adalah salah satu bunga yang indah. Walaupun mawar memiliki mahkota yang berlapis-lapis nan indah, akan tetapi ia akan tetap terlihat anggun apa adanya. Sang mawar memiliki pasangan yang setia dan selalu ada untuk dirinya, pasangannya itu adalah tangkai dari bunga mawar putih itu sendiri, yang akan selalu melindungi di setiap keindahan dari mawar itu, yang akan selalu menemani dan menjaga mawar itu agar tidak sendirian dan kesepian.

Tangkai ini akan selalu berusaha menghibur sang mawar dalam keadaan sedih, sang tangkai yang akan mengingatkan dan melarang sang mawar apabila ia akan menggugurkan sehelai mahkotanya karena sang tangkai tahu apa yang terbaik bagi keindahan sang mawar. Setiap masalah yang selalu dihadapi sang mawar, ia akan selalu terlihat tegar walaupun ia harus merasakan kerapuhan didalam lembaran helaian-helaian mahkota dari sang mawar. Sang tangkai akan mencoba untuk selalu menghapus kerapuhan bagi sang mawar.

Seberapapun indahnya sang mawar itu, ternyata ia memiliki keegoisan dengan sang tangkai agar mawar ingin mendapatkan sinar matahari yang lebih dibandingkan sang tangkai. Tapi ketauhilah sang mawar melakukan itu karena ia sayang dan takut kehilangan sang tangkai. Ia akan melindungi sang tangkai agar tidak cepat pergi meninggalkan sang mawar. Setiap sang mawar dalam keadaan marah, sang mawar sebenarnya tahu jika perbuatannya itu akan membuat sang tangkai kecewa, kesal, sedih, dan menahan amarahnya sendiri, akan tetapi sang tangkai tetap menunjukkan sikap sabar dalam menghadapi amarah dari sang mawar.
Dan maafkanlah ketidak sempurnaan yang dimiliki sang mawar, semoga sang tangkai dapat menerima kekurangan dari sang mawar. Mawar akan sempurna apabila dilengkai dengan tangkainya. Jangan lupa, mawar dan tangkainya akan selalu bersama dalam keadaan apapun. 



 J
     

Friday, May 11, 2012

aku heran


Aku heran
terkadang aku rindu
terkadang ada sesuatu yang hilang
dan yang mengherankan lagi
terkadang rasa cinta ini datang lagi

aku ragu karena ini
ada apa dengan rasa ini?

sebenarnya aku tidak menginginkan ini kembali
aku tidak menginginkan mengingat itu kembali

kau bagai api yang melebur
kau bagai badai yang menerbangkan

semoga ini mereda dan tidak terulang kembali

Sunday, May 6, 2012

Kangen by Chrisye

Kuterima suratmu
Telah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu
Akan hadirnya diriku
Didalam hari-harimu
Bersama lagi

Kau bertanya padaku
Kapan aku akan kembali lagi
Katamu kau tak kuasa Melawan,
Gejolak didalam dada
Yang membara menahan rasa
Pertemuan kita nanti
Saat kau ada disisiku

Semua kata rindumu semakin membuatku
Tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku akupun rindu kamu
Ku akan pulang Melepas semua kerinduan
Yang terpendam

Kau tuliskan padaku
Kata cinta Yang manis dalam suratmu
Kau katakan padaku Saat ini,
Ku ingin ada pelukmu
Dan belai lembut kasihmu
Tak akan kulupa selamanya
Saat bersama, dirimu

Semua kata rindumu semakin membuatku
Tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku akupun rindu kamu
Ku akan pulang Melepas semua kerinduan
Yang terpendam 

Jangan katakan cinta
Menambah beban rasa
Sudah simpan saja sedihmu itu
Ku akan datang

Saturday, April 21, 2012

Penguasa

waktu terus berjalan
seiring berjalannya waktu semua akan tampak berbeda
dimulai dari yang baik menjadi jahat
begitu juga dari yang jahat menjadi baik

kerasnya hidup ini
tak perduli teman atau lawan
semuanya disapu habis jika menghalangi terjalnya
itulah penguasa, tak pernah ia menoleh kebawah
mereka hanya mementingkan golongan dan harta yang ia cari

hinanya kalian para penguasa
kalian meminta amanah demi mendapat uang jajan lebih
untuk membeli keperluan kosong yg tak berguna
coba kalian menoleh kebawah
bagaimana yg si miskin itu mencari uang?
mereka ada yang sampai mempertaruhkan nyawa,
hanya untuk beberapa lembar ribu rupiah

jika dibandingkan
kalian lebih hina dari pengemis
mereka hidup apa adanya
mereka menerima rezeki halal yg berikan oleh Allah
lihat kalian, kalian merampok, mencuri, menjarah dan ahh
banyak istilah untuk menggambarkan kalian bapak-bapak penguasa

para pemimpin seperti kalian tak lebih dari limbah
limbah yang tak bisa didaur ulang namun berdampak negatif bagi lingkungan

Monday, March 26, 2012

Touch my hand by David Archuleta

Saw you from the distance,
Saw you from the stage,
Something 'bout the look in your eyes,
Something 'bout your beautiful face,
In a sea of people,
There was only you,
I never knew what this song was about,
But suddenly now I do,

Trying to reach out to you,
Touch my hand,
Reach out as far as you can,
Only me, only you, and the band,
Trying to reach out to you,
Touch my hand,

Can't let the music stop,
Can't let this feeling end,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never see you again,

Can't let the music stop,
Until I touch your hand,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never get the chance again,
I'll never get the chance again,
I'll never get the chance again,

I see the sparkle of a million flashlights,
A wonder wall of stars,
But the one that's shining out so bright,
Is the one right where you are,

Trying to reach out to you,
Touch my hand,
Reach out as far as you can,
Only me, only you, and the band,
Trying to reach out to you,
Touch my hand,

Can't let the music stop,
Can't let this feeling end,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never see you again,

Can't let the music stop,
Until I touch your hand,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never get the chance again,
I'll never get the chance again,

Saw you from the distance,
Saw you from the stage,
Something 'bout the look in your eyes,
Something 'bout your beautiful face,

Can't let the music stop,
Can't let this feeling end,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never see you again,

Can't let the music stop,
Until I touch your hand,
Cause if I do it'll all be over,
I'll never get the chance again,
I'll never get the chance again,

Trying to reach out to you,
Touch my hand, (I'll never get the chance again)
Reach out as far as you can, (I'll never get the chance again)
Only me, only you, and the band,
Trying to reach out to you,
Touch my hand,
Yeah, yeah

Sunday, March 25, 2012

MELIA PROPOLIS

KEAJAIBAN PENYEMBUHAN
ALAMI DARI LEBAH
Era baru dunia kesehatan

MELIA PROPOLIS :

Propolis berasal dari bahasa Yunani PRo=sebelum Polis=kota=sistem pertahanan kota. Propolis dikumpulkan oleh lebah dari tumbuh tumbuhan atau pucuk muda dan kulit pohonterutama pohon poplar lalu dicampur dengan air liurnya, yang digunakan untuk menampal lubang dalam sarang lebah yang sekaligus juga melindungi sarang lebah dari serangan virus, bakteri, jamur.

KANDUNGAN MELIA PROPOLIS:

  1. Propolis mengandung bioflavonoid, yang dapat memulihkan sistem kapilari, memperbaika kerapuhan dan keboran saluran darah, 1 tetes propolis setara 500 buah jeruk.
  2. Propolis mengandung semua mineral yg dibutuhkan tubuh kecuali sulfur.
  3. Propolis mengandung 16 rantai asam amino esensialyang dibutuhkan untuk regenerasi sel.
  4. Propolis mengandung vitamin(A,B kompleks, C, D, E)
  5. Propolis mengandung zat nutrisi penting lainnya

FUNGSI UTAMA MELIA PROPOLIS BAGI TUBUH MANUSIA
  1. Detoksifikasi (cleanshing), membersihkan dan membuang penyebab timbulnya penyakit dalam tubuh
  2. Antibiotik alami (tifak ada efek samping), meningkat kinerja kelenjar tymus yang merupakan pertahanan dan ketahanan kehidupan. Bioflavonoid pada propolis dapat menghancurkan bakteri yang kebal pada antibiotik sintesis.
  3. meningkatkan imunitas (kekebalan tubuh), menigkatkan aktivitas dari dan memperbanyak limfosit T dan makrofag yang sangat berguna dalam memusnakan zat asing dalam tubuh.
  4. Antioksidan (mencegah TUMOR dan KANKER), menetralisir dan membuang racun, zat radical bebas dan melengkapi elektron sel tubuh.

PROPPOLIS JUGA PENYEMBUH AJAIB SEPERTI:
  1. Arteriosklerosis atau pengapuran pembuluh darah oleh lemak
  2. TUMOR
  3. Anti peradangan atau anti infeksi. (Sudah dibuktikan di EROPA TIMUR sejak 20 tahun terakhir).
  4. Diabetes Militus atau kencing manis.
  5. Propolis dapat meningkatkan selsel pankreas dalam menghasilkan insulin yang berfungsi mengatur kadar gula dalam darah.
  6. Gangguan pencernaa.
  7. Propolis sebagai sensitif terhadap H piloro yang menyaababkan penyakit maag dan ulcus atau luka lambung. Propolis juga sensitif terhadap bakteri Ecoli yang menyebabkan diare dan sensitif terhadap bakteri Salmonela Typhosa yang menyebabkan penyakit typus.
  8. Gangguan pencernaa
  9. Propolis membantu sistem pertahanan tubuh untuk melawan penyakit saluran pernafasan kronis, seperti TBC. Propolis berperan dalam pengobatan asma karena kerjanya sebagai Bronkodilator (melebarkan Bronkus), menstabilkan mast-sel dan menekan pengeluaran Histamin. Penyakit jantung dan pembuluh darah  propolis dapat meningkatkan daya pompa jantung (penyakit lemah jantung), hipertensi dan pencegah stroke.\
  10. Penyakit saraf
  11. Propolis dapat penekan syaraf parasimpatis untuk mengekpresikan kesenangan yang dapat menghindari stress. Penyembuhan penyakit arthritis atau radang sendi dan rheumatik.
Ada dalam Al-Qur'an (surah An-Nahl ayat 68-69).


 
 





Jika anda berminat silahkan anda mention
twitter saya @arifinhaka
atau beri komentar pada post saya :D

Thursday, March 8, 2012

Iseng doang

Sejak aku berjumpa denganmu
cambuk dihati ini kini semakin tak menentu
rasa didada kian bergetar


yah dirimu
kau yg ku anggap kekasih hingga saat ini
aku jatuh hati
Inginku kau selalu ada disisi
namun tak lagi
Lihatlah kekasihku
Lihatlah dikedalaman mataku yang berbinar binar menyala karena sayangku
Aku masih menginginkan engkau untuk disini
sentuhlah hatiku agar rindu tak lagi meresah dan ragu


*khusus yg ini gak galau, cuma iseng doang :D

Saturday, March 3, 2012

posting

posting
salah satu cara jika aku merindukanmu
cara dimana dapat meluapkan semua rindu dihati
cara yang menurutku cukup ampuh
untuk melepas rasa rindu terhadapmu

kuibaratkan dirimu seperti embun
embun yang menghalau pandangan tetapi tidak menyilaukan
embun yang menyejukkan tetapi tidak menenggelamkan

Saturday, February 25, 2012

Hilang

detik demi detik, waktu terus berjalan
meninggalkanku dalam ketidak berdayaan
aku kehilangan semua tentang kamu

dikala saat kau disini, semua terasa berwarna, semua begitu indah
kau putuskan untuk pergi, kau bawa semua warna uang indah ini
gelap yang kurasa, semangat ini semakin gelap

mengapa kau pergi? menyerahkah dirimu?
ingatkah apa yang kau katakan kepadadku?
untuk selalu bisa bersamaku

yah, aku tahu
kau tak setia
kau tinggalkan aku disaat aku terpuruk
kini aku kehilangan suntikan semangatmu yg sempat membuatku bangkit

Tuesday, January 31, 2012

Puisi Rindu

aku merindukan apapun tentang kamu
aku merindukan senyum indahmu
aku merindukan akan sebuah gombalan
aku merindukan suntikan motivasi
yang kini mulai melemah :(


semua rasa dan kasih akan dirimu
yang merinduan dengan bergelora

ya ALLAH
jika aku masuk surga indahmu
datangkanlah bidadari yang terindah di surga
yang bisa membuat aku tertawa
mempunya rasa yang sama
rasa cinta karenamu ya ALLAH

wahai semua bidadari surga
datanglah kelak dengan cinta dan kasih yang nyata
karena aku akan selalu menjaga
dalam setiapa derita dan bahagia
:)

Karya Ilmiah - Rumah Ulu

Tim Penyusun :
Aldy Farobi
M.Addiansyah
M.Dian Arifin Haka
tahun ajaran 2011/2012



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman warisan budaya. Salah satu warisan budaya yang masih ada saat ini adalah rumah tradisional. Tiap-tiap daerah memiliki rumah tradisional yang berbeda dan masing-masing diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari rumah tradisional dapat dipelajari sejarah dan kehidupan masyarakat terdahulu yang memiliki nilai-nilai sosial yang tinggi bila dikaji lebih dalam.
Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perubahan dan peningkatan yang sangat cepat. Hal tersebut membuat peninggalan budaya kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Padahal, berbagai macam ilmu dapat dipelajari dari peninggalan budaya salah satunya rumah tradisional. Rumah tradisional bukanlah sebuah peninggalan arsitektur budaya semata, tetapi didalamnya terdapat nilai-nilai moral, sosial dan budaya. Nilai-nilai tersebut dapat berguna sebagai modal pembelajaran kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian tersebut, masyarakat harus mempelajari dan mengaplikasikan nilai-nilai kearifan tradisional yang terdapat pada rumah tradisional secara maksimal. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan modal masyarakat untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian lebih dalam terhadap nilai-nilai filosofis kearifan tradisional yang terdapat pada rumah tradisional Sumatera Selatan, khususnya Rumah Ulu serta peran pelajar dalam pelestarian kearifan lokal yang tercermin didalamnya.



1.2    Rumusan Masalah
             1.     Bagaimana nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang tercermin pada bangunan Rumah Ulu ?
             2.     Bagaimana pengaruh nilai-nilai filosofis kearifan lokal pada Rumah Ulu terhadap pelestarian adat istiadat masyarakat setempat dan pelestarian lingkungan ?
             3.     Bagaimana peran pelajar dalam upaya optimalisasi pelestarian nilai-nilai kearifan tradisional yang terdapat pada Rumah Ulu ?

1.3    Tujuan Penulisan
             1.     Mengetahui nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang tercermin pada bangunan Rumah Ulu.
             2.     Mendeskripsikan pengaruh nilai-nilai filosofis kearifan lokal pada Rumah Ulu terhadap pelestarian adat istiadat masyarakat setempat dan pelestarian lingkungan.
             3.     Mengetahui peran pelajar dalam upaya optimalisasi pelestarian nilai-nilai kearifan tradisional yang terdapat pada Rumah Ulu.

1.4    Manfaat Penulisan
             1.     Bagi pemerintah, agar dapat menjaga dan melestarikan warisan arsitektur budaya, salah satunya adalah rumah ulu di Sumatera Selatan.
             2.     Bagi masyarakat khususnya generasi muda penerus untuk melestarikan nilai-nilai kearifan tradisional yang terdapat pada rumah ulu agar dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupan.
             3.     Bagi penulis, agar dapat menambah dan memperluas pengetahuan mengenai nilai-nilai kearifan tradisional yang terdapat pada rumah ulu, khususnya dalam mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumah Tradisional
Arsitektur Indonesia dipengaruhi oleh keanekaragaman budaya, sejarah dan geografi di Indonesia. Para penyerang, penjajah, dan pedagang membawa perubahan kebudayaan yang sangat mempengaruhi gaya dan teknik konstruksi bangunan. Pengaruh asing yang paling kental pada zaman arsitektur klasik adalah India, meskipun pegaruh Cina dan Arab juga termasuk penting. Kemudian pengaruh Eropa pada seni arsitektur mulai masuk sejak abad ke-18 dan ke-19.
Rumah tradisional merupakan cerminan dari budaya masyarakat. Tiap-tiap daerah memiliki rumah tradisional yang berbeda sesuai dengan budaya setempat. Pada masing-masing rumah tradisional terdapat berbagai macam bentuk dan manfaat dari masing-masing ruang yang dibangun. Biasanya bentuk rumah tradisional juga bergantung pada status sosial si pemilik rumah, namun masih sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat.
Rumah tradisional sebagai budaya material tidak hanya sekedar menyusun elemen-elemen material bangunan menjadi bangunan secara utuh, akan tetapi rumah tradisional juga berperan pada pembentukan ruang-ruang sosial dan simbolik, sebuah “ruang” menjadi cerminan dari perancang dan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

2.2 Sejarah Rumah Ulu
Penamaan pada Rumah Ulu didasarkan pada letak Rumah Ulu. Ulu berasal dari kata “uluan” sebagai lawan dari perkotaan. Dari pernyataan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Rumah Ulu merupakan rumah yang terdapat pada daerah pinggiran atau pedesaan.
Pada zaman dahulu (sekitar 200 tahun yang lalu), ketika lahan masih luas terbentang masyarakat membangun rumah ulu umumnya mengikuti aliran sungai. Ketika itu, masyarakat membangun rumah dengan memerhatikan konsep ulu-ulak (ilir). Artinya, apabila tempat tersebut masih luas dan diharapkan akan digunakan juga untuk pembangunan rumah berikutnya maka pembangunan rumah pertama pada lahan tersebut terletak di bagian ulu.
Kepada yang lebih tua diberikan penghormatan untuk tinggal di sebelah ulu. Hal ini juga berarti orang yang lebih tua harus mengayomi dan melindungi bagi yang lebih muda. Konsep ulu-ulak  juga memiliki nilai positif dalam  ikatan kekeluargaan. Masing- masing anggota dalam keluarga paham akan kedudukan masing-masing dalam  keluarga. Walaupun keluarga merupakan unit terkecil dalam  masyarakat, terdapat pula peraturan tidak tertulis yang diterapkan.
Bentuk dan besar rumah biasanya tergantung kepada penggunaan rumah dan siapa pemilik rumah. Rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal berbeda dengan rumah yang digunakan sebagai tumpangan (penginapan). Selain itu, rumah yang dimiliki oleh masyarakat biasa berbeda dengan rumah para konglomerat dan rumah keturunan pangeran. Misalnya, rumah para bangsawan memiliki hiasan berupa ukiran-ukiran yang dicat dengan warna keemasan sehingga tampak mewah bila dibandingkan dengan rumah para masyarakat biasa.
Pemilihan bahan pada rumah ulu sangat diperhatikan. Hal ini dikarenakan agar rumah tersebut diharapkan dapat dibangun secara maksimal dan akan bertahan dalam waktu yang lama. Pemilihan bahan umumnya merupakan warisan secara turun temurun. Pemilihan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu:
1.    Percobaan secara terus-menerus atau berulang-ulang sejak nenek moyang.
2.      Bentuk bahan atau kayu yang sesuai dengan kebutuhaan.
3.      Foklore (cerita rakyat) secara turun-temurun.
Pemilihan kayu untuk tiang dipiih kayu yang terkuat yaitu kayu gehunggang. Kayu gehunggang dipilih karena bentuknya besar dan kuat, selain itu tahan panas dan air. Sehingga, apabila tergenang air relatif lama, kayu gehunggang tidak lapuk atau tetap bertahan. Selain kayu gehunggang, adapula jenis kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan, yaitu kayu petaling, kayu medang tahanan, kayu medang sela hitam dan kayu tampahegis. Namun, sekarang pemakaian bahan-bahan pembangunan tersebut pada masa sekarang sudah mengalami perubahan karena sulit didapatkan.

2.3 Kearifan Tradisonal
Kearifan tradisional mengandung tiga unsur penting. Pertama, nilai religius dan etika sosial yang mendasari praktek-praktek pengelolaan sumber daya hayatinya. Kedua, norma/aturan adat, yang mengatur hubungan antar komunitas dan lingkungan alamnya. Ketiga, pengetahuan lokal dan keterampilan yang diperoleh dari pengalaman empirik berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun mengelola sumber daya hayati dan lingkungannya.
Kearifan Tradisional merupakan sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial - politik - budaya - ekonomi serta lingkungan yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal. Ciri yang melekat dalam kearifan tradisional adalah sifatnya yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya. Dalam komunitas masyarakat lokal, kearifan tradisional mewujud dalam bentuk seperangkat aturan, pengetahuan dan juga ketrampilan serta tata nilai dan etika yang mengatur tatanan sosial komunitas yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.
Soemarwoto (1982) mengartikan kearifan tradisional sebagai ilmu pengetahuan yang mampu menghadapi kondisi suatu lingkungan. Kearifan tradisional dipandang sebagai “teknologi baru” dalam pelestarian hutan. Hal ini memiliki makna yang luas, karena mencakup seluruh peralatan/benda, metode, cara serta pengorganisasian yang diciptakan oleh elemen manusia berdasarkan keterampilan dan ilmu pengetahuan (knowledge) yang dimilikinya. Oleh karena itu kearifan tradisional preferensinya lebih ke arah pengetahuan, bukan sekedar sains (science) karena adanya aspek “pengalaman” dan “keterampilan.
BAB III
METODE PENULISAN

3.1  Sumber Data
Dalam penelitian ini penulis mengkaji buku-buku, jurnal, serta penelusuran situs internet yang berhubungan dengan masalah dalam karya tulis.

3.2  Tempat dan Waktu Penulisan
Penulisan ini dilakukan di wilayah Kota Palembang pada tanggal 15 September – 5 Oktober 2010.

3.3  Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut.
1.      Dokumentasi, yaitu mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan Rumah Ulu.
2.      Studi pustaka,yaitu mempelajari berbagai sumber bacaan yang relevan dan berkaitan dengan topik yang diangkat
Teknik yang digunakan penulis adalah studi dokumenter, yaitu mengkaji buku-buku, jurnal, serta penelusuran situs internet yang berhubungan dengan masalah penelitian.

3.4  Analisis Data
Dari berbagai informasi yang diterima, ditabulasi, kemudian dilakukan diskusi, lalu dianalisis secara deskriptif, serta perumusan masalah untuk mendapatkan suatu pemecahan masalah yang akan dibahas.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Nilai-Nilai Filosofis Kearifan Lokal yang Tercermin Pada Bangunan Rumah Ulu
Rumah ulu merupakan rumah tradisional masyarakat Ogan Komering Ulu. Pembangunan rumah ulu dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat hidup rukun, tentram dan saling membantu satu sama lain karena masyarakat telah memiliki nilai sosial yang tinggi.
Rumah Ulu memiliki ciri-ciri khusus pada konstruksi bangunannya. Ciri-ciri tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.
1.      Tiang rumah ulu dibangun dengan menggunakan kayu gehunggang. Pemilihan kayu gehunggang didasarkan atas bentuk kayu gehunggang yang besar dan kuat, sehingga cocok digunakan sebagai tiang. Disamping itu, kayu gehunggang juga tahan panas dan air. Apabila musim hujan, biasanya banjir dan tiang tergenang air, meskipun terjadi dalam waktu yang relatif lama, kayu gehunggang tidak lapuk dan tetap bertahan.
2.      Jendela pada Rumah Ulu terdapat dua variasi. Pertama, jendela yang memuliki satu arah bukaan. Kedua, jendela yang memiliki arah bukaan ke samping kiri dan samping kanan. Jendela tersebut dinamakan jendela ingkap. Dengan demikian, sirkulasi udara dapat berlangsung dengan baik serta dapat memberikan kesejukan di dalam rumah.
Pada Rumah Ulu, terdapat pula ukiran-ukiran menghiasi rumah. Ukiran-ukiran tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Pada daun pintu bagian tengah terdapat ukiran matahari. Pada ukiran tersebut didominasi oleh ragam hias geometris terutama motif tumpal atau pucuk rebung. Ukiran matahari dibuat sebagai lambang kehidupan, artinya manusia tidak bisa hidup tanpa matahari. Sedangkan motif tumpal atau pucuk rebung melambangkan pertumbuhan. Filosofis yang tergambar pada ukiran tersebut yaitu kehidupan manusia sangat bergantung pada sinar matahari.
2.      Selain pada daun pintu, terdapat pula ukiran pada bagian atas pintu dan jendela. Ukiran tersebut berbentuk helaian-helaian daun yang bersatu. Helaian-helaian daun melambangkan alam sekitar. Ukiran tersebut menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam sekitar yang telah banyak memberikan manfaat bagi manusia. Sedangkan helaian-helaian daun yang bersatu melambangkan persatuan yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam hidup bermasyarakat.
Rumah Ulu terdiri atas beberapa bagian, yaitu lintut atau garang, haluan dan kakudan, ruang makan, dapur, dan ruang gedongan atau ambin. Masing-masing ruang memiliki fungsi tersendiri yang berkaitan erat dengan nilai-nilai filosofis kearifan tradisional. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
    1.     Garang atau Lintut
Garang memiliki posisi paling rendah dari Rumah Ulu. Garang merupakan bagian paling depan dari Rumah Ulu, namun sebelum menuju garang, maka dapat dijumpai tangga. Tangga rumah tradisional di Sumatera Selatan umumnya berjumlah ganjil dan itu juga berlaku pada Rumah Ulu. Hal ini berpedoman pada empat filsofi atau dalam istilah setempat disebut empat sukatan. Pertama taka , kedua tangga, ketiga tunggu, dan keempat tinggal. Taka berarti tingkat atau meningkat; tangga bermakna sekedar tangga atau tidak ada perkembangan; tunggu berarti selalu ditunggu atau kerasan; sedangkan tinggal berarti selalu ditinggalkan atau tidak kerasan. Dari empat filosofis tersebut, maka jumlah tangga dibuat ganjil untuk menolak bala.
Setelah menaiki tangga, maka ruang pertama yang dijumpai adalah lintut atau garang. Garang digunakan sebagai tempat mengobrol dan bermusyawarah bagi kaum bapak sepulang bekerja di sore hari. Dengan demikian, pada garang terdapat nilai sosial budaya yang tinggi karena dapat menciptakan hubungan silaturahmi dan memupuk kerukunan antar masyarakat.
Selain itu, apabila ada tamu yang tidak dikenal berkunjung ke rumah, maka tamu tersebut hanya dipersilahkan untuk duduk di garang. Prinsip tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam bidang sosial, yaitu agar tidak mudah menerima tamu sembarangan demi mencegah terjadinya kriminalitas.
    2.     Haluan dan Kakudan
Dari garang menuju ke bagian dalam rumah, dapat dijumpai haluan dan kakudan. Haluan dan kakudan terdapat pada bagian tengah rumah. Haluan posisinya berada di tengah-tengah rumah ulu, diapit dari arah sebelah laok-darak (barat-timur) dan hulu-liba/hilir (utara-selatan), yakni oleh ambin-kakudan dan garang-pawon. Berdasarkan hierarki rumah ulu, haluan memiliki tingkatan yang sama dengan kakudan, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Haluan (perempuan) dan kakudan (laki-laki). Sebagai penanda bahwa adanya perbedaan fungsi antara haluan dan kakudan, di antara lantai haluan dan kakudan diberi kayu balok panjang yang posisinya melintang, dan di atasnya ada sangai (tiang), sebagai perantara haluan dengan kakudan.
Dalam sebuah acara adat yang disebut ningkuk, haluan hanya diperuntukkan bagi perempuan dan kakudan tempat laki-laki. Jika ada pemuda yang bertamu ke rumah seorang gadis, si pemuda hanya boleh duduk di kakudan, dan si gadisnya harus berada di haluan. Hal demikian merupakan budaya (tradisi) turun-temurun yang selalu dilaksanakan.
Walaupun bukan peraturan tertulis, namun masyarakat sadar akan pentingnya aturan tersebut. Masyarakat mentaati aturan tersebut dan percaya bahwa peraturan tersebut akan membawa mereka pada suatu kebaikan. Nilai keagamaan tercermin dalam fungsi halauan dan kakudan, yaitu menjaga batas antara laki-laki dan perempuan. Batasan tersebut diterapkan untuk mencegah sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
Haluan dan kakudan juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu sebagai ungkapan rasa penghormatan terhadap tamu. Kegiatan yang berlangsung yaitu musyawarah, mengobrol, dan melakukan silaturahmi. Dari segi sosial budaya, dapat dinilai bahwa haluan dan kakudan dapat menciptakan terjalinnya hubungan silaturahmi dan sosialisasi sehingga terciptanya kerukunan antar masyarakat.
Selain itu, fungsi lain dari haluan dan kakudan adalah sebagai tempat menampung aktivitas adat dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa Rumah Ulu sudah mencerminkan kearifan lokal sebagai rumah yang mendukung pelestarian adat istiadat setempat sehingga adat istiadat setempat tidak mudah pudar di masyarakat.
Kegiatan keagamaan juga berlangsung di ruang pemindangan depan. Kegiatan yang berlangsung seperti khitanan, tadarus bersama, dan shalat. Dengan demikian, ruang ini memiliki cerminan nilai keagamaan yang tinggi yaitu mendukung hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa.
    3.     Ruang Gedongan atau Ambin
Ruang gedongan berfungsi sebagai ruang tidur anggota keluarga. Lantai ruang gedongan dibuat lebih tinggi. Ruang gedongan memiliki kedudukan tertinggi dan suci, sejalan dengan pandangan masyarakat Komering bahwa keluarga harus dijunjung tinggi kesucian dan kehormatannya. Karenanya dalam struktur rumah ulu, posisi ruang gedongan di sebelah laok (barat=arah salat/kiblat). Pada ruang gedongan, nilai sosial budaya memiliki hubungan erat dengan nilai agama. Kehormatan sang pemilik rumah dapat terlihat jelas selaras dengan posisi ruang gedongan yang searah dengan kiblat yang merupakan arah suci dalam menjalankan ibadah shalat.
Ada aturan-aturan dalam menggunakan ruang gedongan. Konsep ulu-ulak berlaku disini. Bapak dan ibu tidur di tempat yang paling ulu. Namun, apabila terdapat kakek dan nenek, maka merekalah yang dipersilahkan untuk tidur di tempat yang paling ulu. Sedangkan anak-anak, selalu berada di tempak paling ulak. Hal ini membuktikan bahwa ruang gedongan sangat mendukung dalam penerapan nilai kesopanan. Nilai kesopanan dapat terlihat dengan menghormati dan menghargai orang yang lebih tua.
Hubungan kerukunan dan ketentraman antar anggota keluarga dapat tercipta pada ruang gedongan. Nilai filosofis tersebut terbentuk dengan cara kebiasaan orang tua atau kakek dan nenek dalam menceritakan dongeng-dongeng pengantar tidur. Biasanya dongeng yang diceritakan adalah dongeng yang mengandung nilai-nilai positif dari berbagai aspek dan memiliki pesan moral yang baik.
    4.     Ruang Makan
Sesuai dengan  namanya, ruang makan berfungsi sebagai tempat untuk makan bagi anggota keluarga. Dalam  hal menggunakan  ruang  makan juga memiliki aturan. Konsep ulu-ulak juga berlaku disini. Pada saat makan bersama, kakek dan nenek berada di bagian paling ulu, kemudian diikuti dengan ayah dan ibu, lalu anak-anak. Filosofis dari konsep ulu-ulak  memiliki nilai kesopanan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
    5.     Dapur
Sederetan dengan ruang makan adalah dapur. Dapur dipergunakan sebagai tempat para ibu dan anak perempuan untuk memasak makanan. Oleh karena itu, berbagai macam peralatan masak terdapat disana.
Biasanya, anak perempuan yang mulai dewasa telah diajarkan untuk memasak. Kegiatan memasak didampingi oleh ibu. Oleh karena itu, dapur berfungsi sebagai prasana dalam belajar mengajar dalam hal memasak.


4.2 Pengaruh Nilai-Nilai Kearifan Lokal pada Rumah Ulu Terhadap Pelestarian Adat Istiadat Masyarakat Setempat dan Pelestarian Lingkungan
Rumah Ulu di Ogan Komering Ulu memiliki nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang sangat baik bila dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan. Banyak pengaruh yang dapat ditimbulkan dari penerapan nilai-nilai filosofis kearifan lokal Rumah Ulu terutama dari bidang lingkungan hidup dan adat istiadat masyarakat setempat.
Pengaruh nilai-nilai filosofis kearifan lokal Rumah Ulu terhadap pelestarian adat istiadat masyarakat setempat dapat diuraikan sebagai berikut.
1.   Tata letak penggunaan ruang makan dan kamar yang menggunakan konsep ulu-ulak dapat mendukung pelestarian budaya masyarakat setempat, yaitu budaya penghormatan kepada orang yang lebih tua. Sehingga masyarakat terbiasa untuk menghormati orang yang lebih tua dan pembelajaran bagi yang muda untuk tidak memiliki sifat membangkang terhadap orang yang lebih tua.
2.   Kegiatan adat istiadat masyarakat tidak akan mudah luntur, mengingat tersedianya haluan dan kakudan yang merupakan tempat berlangsungnya kegiatan adat masyarakat setempat. Kegiatan adat yang biasa dilakukan adalah perkawinan, selamatan, hajatan, dan lain sebagainya.
3.   Budaya menjamu tamu yang biasa dilakukan masyarakat, baik di garang, haluan, maupun kakudan membuat masyarakat terbiasa untuk bersikap sopan dan ramah, serta dapat membuat terjalinnya hubungan silaturahmi yang baik.
4.   Tradisi menjaga jarak dan batas antara laki-laki dan perempuan terlihat pada balok kayu dan tiang yang dipasang sebagai batas haluan dan kakudan. Tradisi ini membuat masyarakat tahu akan batasan-batasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Selain pengaruh terhadap pelestarian adat istiadat masyarakat setempat, terdapat pula pengaruh dalam aspek pelestarian lingkungan dari nilai-nilai filosofis kearifan lokal pada rumah ulu. Pengaruh dalam aspek pelestarian lingkungan dapat dijabarkan sebagai berikut.
1.   Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah ulu merupakan bahan dari alam yang ramah lingkungan, contohnya tiang yag digunakan berbahan dasar kayu. Pembuatan rumah ulu tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang akan menyebabkan pencemaran, terutama pencemaran tanah. Dengan demikian,  kerusakan lingkungan dapat diminimalisir.
2.   Penggunaan kayu yang baik sebagai bahan pembuatan rumah ulu dapat meminimalisir penebangan pohon di hutan. Hal ini dikarenakan kayu yang digunakan adalah kayu yang tidak mudah lapuk, sehingga dapat bertahan dari generasi ke genarasi berikutnya.
3.   Rumah Ulu yang berbentuk panggung dapat meminimalisir tinggi banjir walaupun dalam satu wilayah terdiri dari Rumah Ulu yang banyak. Hal ini dikarenakan Rumah Ulu berdiri diatas tiang-tiang yang tinggi. Sehingga apabila terjadi banjir, maka luapan air dapat mengalir melalui bawah rumah.

4.3 Peran Pelajar Dalam Upaya Optimalisasi Pelestarian Nilai-Nilai Kearifan Tradisional yang Terdapat Pada Rumah Ulu
     Melestarikan Rumah Ulu bukan berarti mengharuskan kita untuk membangun Rumah Ulu kembali. Namun, pelestarian yang ada pada Rumah Ulu dapat dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang terdapat pada rumah ulu. Penerapan tersebut harus dilaksanakan oleh masyarakat, khusunya pelajar sebagai generasi penerus. Peran pelajar dalam pelestarian nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang terdapat pada Rumah Ulu dapat dilakukan sebagai berikut.
1.    Menjaga hubungan silaturahmi antar sesama teman demi terciptanya hidup rukun dan damai. Misalnya menghargai dan menghormati teman yang berbeda ras, suku, maupun agama.
2.    Bersikap hormat dan patuh kepada orang yang lebih tua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengucap salam kepada orang tua ketika akan meninggalkan rumah.
3.    Menjaga batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam pertemanan. Sehingga, dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
4.    Melakukan perintah-perintah agama, seperti melaksanakan shalat berjamaah dan tadarusan.
5.    Ikut serta dalam kegiatan adat istiadat, misalnya menghadiri pernikahan dan hajatan. Sehingga dapat mengetahui dan mempelajari adat istiadat masyarakat setempat serta dapat melestarikannya di masa yang akan datang.
6.    Mempelajari ukiran-ukiran yang terdapat pada Rumah Ulu. Sebab, pada dasarnya keterampilan dalam membuat ukiran jarang diwariskan ke generasi selanjutnya.
7.    Mempelajari makna yang terkandung dalam ukiran-ukiran, sebab pada setiap ukiran memiliki makna yang berkaitan erat dengan kehidupan.
8.    Saling menyayangi antar anggota keluarga. Sebab, kerukunan dimasyarakat berawal dari kerukunan dalam keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
9.    Menjaga kelestarian hutan mulai dari hal-hal terkecil dalam kehidupan, yaitu melakukan penanaman pohon.
10.     Saling membantu antar sesama teman. Selain itu, ikut serta dalam kegiatan bergotong royong terutama dalam hal bergotong-royong membersihkan lingkungan guna menjaga kelestarian lingkungan.
BAB V
PENUTUP
5.1    Simpulan
1.    Rumah Ulu memiliki nilai-nilai filosofis kearifan lokal yang tercermin pada masing-masing bagian rumah. Bagian-bagian tersebut antara lain lintut atau garang, haluan, kakudan, ruang gedongan atau ambin, ruang makan, dan dapur. Pada tiap-tiap bagian memiliki nilai-nilai yang berbeda sesuai dengan fungsinya.
2.    Pengaruh nilai-nilai filosofis kearifan tradisional yang tercermin pada Rumah Ulu sangat besar. Terutama dalam dua aspek, yaitu pelestarian adat istiadat masyarakat dan dalam pelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian, kelestarian adat istiadat dan lingkungan hidup dapat terjaga.
3.    Penerapan nilai-nilai filosofis kearifan lokal sebaiknya dilakukan oleh masyarakat, khususnya pelajar sebagai generasi penerus. Peran tersebut dapat diterapkan dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan.

5.1    Saran
1.    Bagi pemerintah, agar dapat memerhatikan nilai-nilai filosofis yang terdapat pada peninggalan arsitektur budaya, khususnya rumah tradisional. Salah satunya dengan menjaga rumah tradisional yang ada dan mensosialisasikan kepada masyarakat sehingga kearifan tradisional dapat diterapkan dengan baik.
2.    Bagi masyarakat, khususnya para pelajar, agar dapat mempelajari dan meningkatkan kepedulian terhadap kearifan tradisional yang ada pada rumah tradisional dan menerapkannya dalam kehidupan.
.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku:
Daniel, Moehar. 2001. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamadil, dkk. 1977. Rumah Adat. Jakarta: PT Karya  Nusantara.
Herimanto, dan Winarno. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Komaruddin, dkk. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.
Neolaka, Amos. 2007. Kesadaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tim Redaksi. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Toekio, Soegeng. 2000. Mengenal Ragam Hias Indonesia. Bandung: Angkasa.
Sukanti, dkk. 1994. Rumah Ulu Sumatera Selatan. Palembang: Departemen Pendidikan dan  
        Kebudayaan.

Sumber website:
Rajab. 2006. Memberdayakan Kearifan Lokal Bagi Komunitas Adat Terpencil. www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=328. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2010.